INDONESIAGLOBAL, ACEH TENGGARA – Pernyataan Bupati Aceh Tenggara, Salim Fakhry pada apel perdana pasca libur akhir tahun di lapangan Sekdakab pada Senin 5 Januari 2026 lalu menuai kontoversi. Dia menyebutkan, organisasi mahasiswa Aceh Tenggara di Banda Aceh atau biasa disebut IPMAT Banda Aceh telah memprovokasinya.
Pernyataan itu menuai kontroversi dan kecaman dari kelompok mahasiswa, pihak mahasiswa mempertanyakan etika komunikasi Bupati Salim Fakhry sebagai pejabat publik.
Pasalnya, dengan tegas mencatut lembaga mahasiswa IPMAT Banda Aceh yang notabenenya adalah organisasi mahasiswa Aceh Tenggara yang semestinya memiliki kedekatan emosional dengan Pemerintah Kabupaten Aceh tenggara.
Menanggapi pernyataan tersebut, Ketua Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Aceh Tenggara (IPMAT) Banda Aceh, Sabaruddin menilai Bupati Aceh Tenggara sangat sigap mengcounter issue keritikan dari pihaknya.
“Kita kagum dengan Bupati Aceh Tenggara Bapak Salim Fakhry, saat apel siaga terhadap ASN Pemda, menyatakan IPMAT Banda Aceh telah memprovokasi, agar ASN dilingkungan Pemda tidak terprovokasi oleh virus akal sehat, keritikan IPMAT Banda Aceh” kata Sabaruddin kepada IndonesiaGlobal, Jum’at 9 Januari 2026.
Sabaruddin sangat mengapresiasi sigapnya Bupati Aceh Tenggara dalam mengcounter Keritik dari IPMAT Banda Aceh. Namun dia menilai kesigapan Bupati itu masih salah sasaran.
“Ya kita apresiasi lah, Bupati kita cepat dan sigap, akan tetapi saya merasa imut juga terhadap pak Bupati, beliau termasuk pejabat senior tapi masih saja salah sasaran dalam menyikapi keritikan, bahkan keritikan dianggap provokasi.” ucap Sabaruddin dengan tawa.
Sabaruddin juga menyebutkan, Bupati Salim Fakhry, ibarat salah minum obat yang menimbulkan kekeliruan dalam menyikapi keritikan mahasiswa. Seharusnya, yang disikapi dan di urusi ialah lambannya BPBD dan Dinsos dalam penanganan terhadap korban bencana hidrometeorologi 2025 yang hingga saat ini korban belum tertangani dengan baik.
“Kita sudah lihat, bukanya sibuk melobi bantuan, Bupati malah sibuk urusan validasi. Ini sudah dekat bulan ramadhan dan belum ada kejelasan hunian yang layak di bangun Pemerintah, mestinya pikirkan ke situ lah,” ujar Sabaruddin dengan nada serius.
Selain itu, Sabaruddin mengungkapkan, hadir di tengah masyarakat korban memang dapat menghibur warga, tetapi itu bukan solusi.
“Pikirkan nasib korban jangka panjang, hunian layak, santunan 15 juta, penggunaan hibah 4 miliar, bantuan rumah 60 juta per KK, bantuan 600 ribu per bulan bagi korban, ini apa kabar? dan pemutakhiran data korban harus dengan cepat dan tepat,” terangnya.
Sabaruddin mengatakan, IPMAT Banda Aceh tetap mengawal bantuan rehabilitasi dan rekonstruksi (Rehab Rekon), agar kebiasaan mengambil keuntungan dari proyek bencana dengan cara tidak sah bisa diminimalisir, sehingga bantuan Rehab Rekon di kabupaten Aceh Tenggara tepat sasaran.
“Kami sudah melaksanakan konsolidasi bersama Solidaritas Paguyuban Mahasiswa dan OKP Aceh Tenggara Se-Indonesia seperti IPMAT Medan, IPMAT Jabodetabek, IKAMARA Yogyakarta dan SAPMA PP Aceh Tenggara pada 03 Januari 2026 lalu. Kami berkomitmen untuk mengawal Rehab Rekon dan kebijakan Bupati agar memihak kepada masyarakat,” pungkasnya.












