INDONESIAGLOBAL, LANGSA — Di tengah lambannya penanganan banjir bandang di Kota Langsa, Universitas Samudra (Unsam) terpaksa membuka dapur umum untuk membantu ratusan mahasiswa yang hingga kini belum tersentuh bantuan memadai dari pemerintah. Dapur umum ini telah beroperasi empat hari dan menjadi satu-satunya sumber makanan bagi banyak mahasiswa yang masih bertahan di kos maupun asrama.
Dapur umum tersebut didirikan di lingkungan kampus, sepenuhnya mengandalkan donasi sejumlah pihak eksternal. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan dasar mahasiswa terpukul parah akibat akses pangan yang terbatas dan minimnya fasilitas umum yang kembali berfungsi pascabanjir.
“Kita sudah empat hari menjalankan dapur ini. Ini inisiatif dari rektor dan kawan-kawan lain, termasuk adanya donasi dari Pemerintah Kota Langsa,” ujar Kepala Biro Universitas Samudra, Zulfan, saat ditemui IndonesiaGlobal, Rabu 3 Desember 2025.
Menurut Zulfan, pihak kampus telah berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk melaporkan kondisi mahasiswa dan dosen yang terdampak. Ia menyebut kementerian akan menyalurkan bantuan, meski belum dijelaskan kapan bantuan itu tiba di Langsa.
Setiap hari, dapur umum ini menyiapkan ratusan porsi makanan untuk mahasiswa dari berbagai fakultas. Pembagian dilakukan pada waktu tertentu agar distribusi lebih tertib. Unsam memastikan dapur akan tetap beroperasi selama logistik tersedia.
“Selagi stok bahan makanan mencukupi, dapur akan tetap dibuka. Ini bentuk kepedulian kampus kepada mahasiswa yang kami prioritaskan dalam masa darurat seperti ini,” tegas Zulfan.
Di sisi lain, 84 mahasiswa Unsam asal Labuhan Batu dikabarkan akan dijemput oleh pemerintah daerah setempat. Namun hingga Rabu malam, bus yang dikirim Pemkab Labuhan Batu belum kunjung tiba di Langsa.
Sejumlah mahasiswa mengaku sangat terbantu dengan keberadaan dapur umum, terlebih akses transportasi masih terbatas sehingga mereka belum bisa kembali ke daerah masing-masing.
Banjir bandang yang melanda Kota Langsa sejak pekan lalu menyebabkan ribuan warga terdampak. Namun hingga memasuki hari-hari pemulihan, mahasiswa Unsam tampak lebih banyak bergantung pada solidaritas internal kampus ketimbang kehadiran nyata pemerintah.
Editor: VID












