INDONESIAGLOBAL, ACEH SELATAN – Puluhan pemuda dari Desa Balai dan Desa Ladang, Kecamatan Samadua, Aceh Selatan, mendatangi Kantor Unit Layanan Pelanggan (ULP) PLN Tapaktuan pada Senin 1 Desember 2025 sekitar pukul 23.45 WIB. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap jadwal pemadaman listrik bergilir yang dinilai tidak adil dan merugikan masyarakat.
Koordinator aksi, Fadhlur Rahman, menyebut kedatangan mereka untuk meminta penjelasan terkait pemadaman yang hanya memberi aliran listrik sekitar empat jam per hari sejak Kamis (26/11/2025). Kondisi tersebut dianggap timpang karena wilayah lain di Samadua dan Tapaktuan mendapat suplai listrik lebih lama.
“Kami datang ke sini bukan untuk membuat onar, tapi untuk mempertanyakan penyebab kenapa di Desa Balai dan sekitarnya hanya dilakukan penyalaan listrik hanya 4 jam sejak Kamis 26 November 2025 hingga saat ini, padahal di desa lain dalam kecamatan Samadua dan Tapaktuan mendapatkan kesempatan lebih sering dan lebih lama,” ujarnya kepada IndonesiaGlobal.
Pemuda meminta agar PLN menerapkan pembagian pemadaman secara merata selama masa gangguan listrik di Aceh. “Kami memahami adanya gangguan kelistrikan di Aceh, namun ketika ada bantuan suplay dari PLTU Nagan Raya, agar dapat disalurkan secara merata dan berkeadilan,” sebutnya.
Mereka juga menilai pemadaman berkepanjangan telah mengganggu berbagai aktivitas warga, termasuk usaha kecil menengah dan penyediaan air bersih.
Dalam dialog bersama perwakilan ULP PLN Tapaktuan, massa mendesak revisi jadwal pemadaman. “Kami menuntut PLN untuk segera merevisi jadwal pemadaman agar durasi dan frekuensinya dapat dibagi secara merata dan adil ke semua wilayah pelanggan,” tegasnya. Mereka turut meminta transparansi informasi terkait penyebab gangguan dan proses pemulihan.
Perwakilan ULP PLN Tapaktuan, Aidil dari bidang pelayanan jaringan, menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan tersebut dan berjanji melakukan evaluasi.
“Kami menyadari adanya keluhan ini dan akan segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penjadwalan pemadaman bergilir di lapangan. Kami akan memastikan ke depannya pembagian beban pemadaman dapat dilakukan secara adil dan merata,” ujarnya.
Aidil menjelaskan gangguan listrik terjadi akibat bencana alam, seperti banjir dan longsor di beberapa titik di Aceh, yang menghambat penyaluran tegangan. Ia memastikan normalisasi akan dilakukan lebih cepat jika pekerjaan lapangan selesai sebelum jadwal.
Terpisah, Manager ULP PLN Tapaktuan, Erliza, mengonfirmasi bahwa hujan deras menyebabkan tower transmisi Arun tumbang. “Hujan dengan intensitas tinggi yang melanda beberapa daerah di Aceh menyebabkan tower transmisi Arun tumbang,” jelasnya melalui pesan WhatsApp.
Ia meminta masyarakat bersabar karena suplai listrik masih terbatas dan sistem kelistrikan Aceh diprioritaskan untuk penanganan bencana. “Kami meminta kepada pelanggan untuk bersabar, sebab sistem kita diatur di Banda Aceh. Suplai terbatas prioritas untuk pasca bencana,” katanya.
Erliza menambahkan kondisi belum memungkinkan untuk menyalakan listrik secara penuh. “Saat ini belum mampu untuk dinyalakan secara menyeluruh, karna hanya bisa dilakukan pemadaman secara bergilir, hanya terbatas yang bisa hidup,” pungkasnya.
Pertemuan antara pemuda dan PLN berakhir tertib setelah pihak PLN menyetujui beberapa poin permintaan warga.












