Oleh: Redaksi IndonesiaGlobal
Keputusan Surya Paloh mencopot Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari keanggotaan DPR RI adalah tamparan keras bagi partai politik lain. Di tengah sorotan publik terhadap ucapan wakil rakyat dinilai kerap melukai perasaan rakyat, NasDem tampil dengan langkah berani: mengorbankan dua nama besar demi menyelamatkan marwah partai dan menjaga jarak dengan sikap arogan para elitenya.
Langkah ini tentu tidak sederhana. Sahroni adalah politisi populer dengan jaringan kuat, sementara Nafa Urbach punya basis elektoral di kalangan artis. Namun Paloh menegaskan: partai harus berdiri bersama rakyat, bukan melawan rakyat. Inilah garis tegas jarang ditunjukkan partai politik hari ini.
Pertanyaannya kini: beranikah Partai Amanat Nasional (PAN) melakukan hal serupa?
Publik masih ingat ucapan Eko Patrio dan Uya Kuya dianggap melecehkan aspirasi rakyat, ketika gelombang protes menolak tunjangan DPR RI memuncak. Ucapan itu melukai hati rakyat sedang menjerit akibat harga sembako melambung, lapangan kerja sulit, dan ketidakpastian ekonomi menghimpit.
PAN punya pilihan: tetap memelihara kader yang “asal bunyi” dengan dalih popularitas dan elektabilitas, atau menunjukkan ketegasan, bahwa partai ini memang berpihak pada rakyat. Kalau NasDem berani memecat kadernya meski berisiko kehilangan kursi dan suara, apakah PAN akan berani menempuh langkah serupa?
Jika PAN hanya diam, publik bisa menilai bahwa PAN lebih takut kehilangan selebriti politik ketimbang kehilangan kepercayaan rakyat. Padahal, di era pasca-Reformasi ini, krisis kepercayaan terhadap DPR sudah di titik nadir. Setiap ucapan yang menganggap enteng penderitaan rakyat, bisa menjadi bara api membakar legitimasi partai.
Di titik ini, PAN sedang diuji. Apakah hanya berani lantang bicara soal moralitas di panggung politik, atau juga berani menegakkan disiplin di internalnya? Jika tidak, PAN harus siap menanggung risiko: perlahan ditinggalkan rakyat yang makin cerdas menilai, siapa benar-benar peduli dan siapa yang hanya pandai bersandiwara.
Surya Paloh sudah memberi contoh. Sekarang publik menunggu: apakah PAN akan punya nyali, atau sekadar bersembunyi di balik popularitas kadernya?












