Jendela BarselaNanggroe AcehPT Mifa

Senyum Emak-Emak Juru Parkir Meulaboh, Terima Bantuan PT Mifa

IndonesiaGlobal.Net
×

Senyum Emak-Emak Juru Parkir Meulaboh, Terima Bantuan PT Mifa

Sebarkan artikel ini
Foto: Mardiana (ujung kanan) bersama jukir kalangan emak-emak, saat menerima paket sembako dari PT Mifa Bersaudara, Meulaboh, Aceh Barat, Senin 25 Agustus 2025. (Dok Ist)

INDONESIAGLOBAL, ACEH BARAT – Senyum tulus terpancar dari wajah Lindawarni, 50 tahun, seorang juru parkir di Kota Meulaboh. Tangannya tampak kasar, karena bertahun-tahun memegang tiket parkir, kini dengan senyum sumringah, Linda menggenggam erat paket sembako pemberian PT Mifa.

Dengan mata berkaca-kaca. “Alhamdulillah, saya sangat terbantu dengan bantuan ini. Terima kasih untuk PT Mifa,” ucapnya lirih.

Hari itu, Senin petang, 25 Agustus 2025, jalanan Kota Meulaboh mulai lengang. Puluhan juru parkir, sebagian besar emak-emak tangguh sehari-hari mengatur kendaraan di bawah teriknya matahari tampak berkumpul bersama di satu titik. Mereka menepi sejenak dari kesibukan, menyambut penyaluran bantuan PT Mifa Bersaudara.

Bantuan berupa paket pangan dan perlengkapan kerja, seperti rompi serta topi, diserahkan langsung Division Head CSR PT Mifa Bersaudara, Tengku Kaddhafi, didampingi Section Head CSR Safrijal. Isinya sederhana, dan tentunya sangat berarti bagi mereka, yakni beras, telur, minyak goreng, dan kebutuhan pokok lainnya.

“Walau sederhana, namun di mata kami yang hidup dari penghasilan tak menentu, bantuan itu begitu berarti,” ungkap Lindawarni, mengaku sudah empat tahun bertahan sebagai juru parkir.

Kata dia, suaminya hanya bekerja sebagai pembawa becak, sementara dia sendiri harus menghidupi lima orang anak. Dua di antaranya lahir dengan keterbatasan penglihatan. “Kadang penghasilan hanya cukup untuk makan sehari. Tapi saya harus kuat demi anak-anak,” tutur Linda lirih.

Kisah serupa datang dari Mardiana, 40 tahun. Sejak berpisah dengan suaminya, dia menggantungkan hidup dari profesi juru parkir sudah dijalaninya selama tujuh tahun.

Kata dia, setiap hari berjaga dari jam 10 pagi hingga sore, bahkan kadang lanjut malam. “Kalau hujan, ya sepi, penghasilan jauh berkurang,” kisahnya, seraya matanya memandang nanar, mengingat getirnya kehidupan.

Namun pada petang ini, wajah Mardiana tak kalah sumringah. Dia merasa perjuangan tak kenal lelah dilakoni nya, mendapat sedikit penghargaan.

“Semoga Mifa semakin maju dan bisa membantu lebih banyak orang,” katanya penuh harap.

Di balik pekerjaan dilakoni mereka, tersimpan kisah perjuangan, air mata, sekaligus ketabahan. Bagi Lindawarni, Mardiana, dan juru parkir lainnya, bantuan itu bukan sekadar sembako atau perlengkapan kerja. Tapi satu pengingat, kerja keras mereka lakoni di jalanan tak luput dari perhatian.

Editor: Dep

Penulis: Hendi BP