INDONESIAGLOBAL, JAKARTA – Senin siang di Jalan Jenderal Gatot Subroto, udara Jakarta yang terik seakan ikut mengeras bersama suara rakyat yang menggema di depan Gedung DPR/MPR. Beton penghalang yang dipasang di pintu gerbang tidak mampu membendung luapan amarah dan rasa kecewa masyarakat sipil.
Seorang demonstran tampak melakukan siaran langsung melalui akun TikTok @bangramaa1, memperlihatkan situasi yang berlangsung tepat di depan pagar kokoh DPR. Sekitar pukul 11.19 WIB, bendera Merah Putih berkibar berdampingan dengan bendera One Piece simbol perlawanan yang lahir dari kebudayaan populer. Di tengah terik matahari, tumpukan kardus dibakar, menyatu dengan pekatnya kekecewaan.
“Disini kita sendiri, tidak ada organisasi, tidak ada mahasiswa hari ini 25 Agustus rakyat menyatakan, rakyat berdaulat,” seru seorang pria yang mengangkat tinggi bendera Merah Putih, orasinya bergema lirih sekaligus lantang dalam tayangan live itu.
Di sekitarnya, suara lain ikut menyoraki. Mereka menuntut janji DPR yang disebut-sebut akan menerima aspirasi rakyat namun tak pernah ditepati. “Mana janjinya Woy, buka pintunya. Rakyat sudah tidak bisa dibohongi, tunjangan beras apa Rp12 juta? Kita buktikan kekuasaan tertinggi itu di tangan rakyat, bukan mereka (DPR),” teriak seorang pria lain, suaranya parau namun penuh perlawanan.
Tak berselang lama, langkah kaki seorang emak-emak hadir di tengah massa. Ia datang ke depan gerbang DPR, menenteng selembar karton sederhana. Tulisan tangan di atasnya begitu jelas terbaca: “Beban Negara Bukanlah Guru, Tetapi DPR! Bubarkan DPR.”
Sosok ibu itu mengangkat tinggi kartonnya. Dalam wajahnya tergambar kelelahan, namun juga keberanian. Karton sederhana itu seakan lebih nyaring dari pada mikrofon, menampar nurani bangsa yang seharusnya dilindungi oleh wakil rakyat.
25 Agustus 2025, bukan sekadar aksi demonstrasi. Ia adalah potret getir tentang jarak yang kian melebar antara rakyat dan wakilnya. Tentang rakyat yang datang tanpa organisasi, tanpa atribut partai, hanya dengan suara hati dan keyakinan bahwa kedaulatan sesungguhnya ada di tangan mereka.
Di depan gedung megah yang dibangun dari keringat rakyat, suara-suara itu terus bergema, bubarkan DPR.
Editor: R Wahyudi












