Nanggroe AcehWartawan

Dua Dekade Damai Aceh: Ferry Effendy, Sang Penjaga Sejarah Lewat Lensa Kamera

IndonesiaGlobal.Net
×

Dua Dekade Damai Aceh: Ferry Effendy, Sang Penjaga Sejarah Lewat Lensa Kamera

Sebarkan artikel ini
Dua Dekade Damai Aceh: Ferry Effendy, Sang Penjaga Sejarah Lewat Lensa Kamera
Foto: Ferry Effendy, di usia 22 tahun, dia memilih berada di garis depan bukan untuk bertempur, melainkan merekam sejarah. (Dok Ist)

Ujar Ferry, membawa kamera kala itu, sama bahayanya dengan membawa senjata. “Di mata pihak-pihak bertikai, kamera identik dengan pengawasan, bahkan ancaman. Kadang saya harus sembunyi di balik semak atau rumah penduduk.”

INDONESIAGLOBAL, BANDA ACEH — Desingan peluru, ledakan granat, dan asap mesiu menjadi latar keseharian Aceh di era konflik 1997–2004. Namun di tengah hiruk-pikuk perang tersebut ada satu sosok tidak mengangkat senjata, melainkan mengarahkan kameranya.

Dialah Ferry Effendy, di usia 22 tahun, ia memilih berada di garis depan bukan untuk bertempur, melainkan untuk merekam sejarah.

Sabtu sore, 16 Agustus 2025, kepada IndonesiaGlobal, Ferry, saat ini berusia 53 tahun, membuka kembali memori pahit, sekaligus kisah heroik perjalanan jurnalistiknya.

Kenang dia, “Kalau saya tidak rekam, sejarah bisa hilang,” katanya.

Foto: Piagam penghargaan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRA)
Foto: Piagam penghargaan dari Badan Reintegrasi Aceh (BRA)

Kamera Sebagai “Senjata”

Di masa itu, ketika teknologi digital belum menjamah ruang redaksi, pekerjaan seorang kameramen terbilang penuh risiko. Setiap rekaman harus disimpan dalam kaset lalu dikirim via kargo Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, menuju Jakarta.

Ujar dia, membawa kamera kala itu sama bahayanya dengan membawa senjata. “Di mata pihak-pihak bertikai, kamera identik dengan pengawasan, bahkan ancaman. Kadang saya harus sembunyi di balik semak atau rumah penduduk,” ungkap Ferry, akrab disapa Fendy.

LIHAT JUGA:   Bahlil Klaim 97 Persen Listrik di Aceh Kembali Pulih, Warga: HOAX!

Merekam Peristiwa Berdarah

Sejak pertama kali ditugaskan pada 1997, Ferry kerap berada di episentrum tragedi. Beberapa momen penting yang terekam lensa kameranya antara lain:

Pengepungan rumah di Lambhuk, Banda Aceh, kala itu dituding sebagai markas gerilyawan GAM.

Kontak senjata di Camp Pengungsian Kota Fajar, Aceh Selatan, ketika Joint Security Committee (JSC) berusaha menjaga gencatan senjata.

Pengepungan Abdullah Syafi’i, Panglima GAM Wilayah Pasee, di Jimjim, Pidie, berakhir dengan gugurnya salah satu tokoh perlawanan Aceh.

Setiap frame dia rekam, itu adalah potongan realitas getir, memperlihatkan rapuhnya kehidupan masyarakat sipil di tengah konflik bersenjata.

Dari Gelap ke Cahaya Damai

Meski identik dengan tragedi, kamera Ferry juga merekam babak baru Aceh: transisi menuju perdamaian.

Salah satu momen paling bersejarah, cerita Ferry, saat eks kombatan GAM menyerahkan senjata usai penandatanganan MoU Helsinki, 15 Agustus 2005. Senjata-senjata itu dipotong, dibakar, dan dihancurkan di depan publik.

“Melihat senjata dimusnahkan, saya merasa ada babak baru untuk Aceh. Itu gambar saya rekam dengan penuh harapan,” ujarnya, dengan mata berkaca-kaca.

Timeline Singkat Konflik Aceh (1997–2004)

1997–1998: Kontak senjata meningkat tajam antara GAM dan TNI/Polri.

LIHAT JUGA:   Bahlil Klaim 97 Persen Listrik di Aceh Kembali Pulih, Warga: HOAX!

1999: Reformasi memicu gelombang tuntutan referendum.

2000: Humanitarian Pause ditandatangani, namun tak bertahan lama.

2001: Operasi militer meluas, korban sipil berjatuhan.

2002: Cessation of Hostilities Agreement (CoHA) diteken di Jenewa; JSC hadir di Aceh.

2003: CoHA runtuh, Darurat Militer diberlakukan.

2004: Status berubah menjadi Darurat Sipil. Tsunami membuka jalan menuju damai.

Jurnalis Sebagai Saksi Sejarah

Ferry Effendy, bukan hanya seorang kameramen televisi. Ia adalah saksi sejarah. Rekaman-rekamannya kini menjadi arsip penting perjalanan Aceh: dari gelapnya konflik hingga lahirnya harapan perdamaian.

“Sekarang video bisa dikirim ke redaksi dalam hitungan detik. Dulu, nyawa taruhannya. Tapi saya tetap memilih di garis depan demi kebenaran,” kata dia.

Profil Singkat Ferry Effendy

Tempat Lahir: Medan, tahun 1972

Karier:

RCTI (1994–1997) – Cameraman

Freelance (1997–1999) – Cameraman lepas

SCTV Liputan 6 (1999–2017) – Cameraman nasional, meliput konflik Aceh hingga bencana besar

Keahlian: Camerawork, dokumentasi konflik, jurnalisme visual, editing, kerja dalam tekanan tinggi

Dua dekade damai Aceh mengingatkan kita, bahwa di balik setiap tayangan berita, ada risiko nyawa, dedikasi, dan keberanian seorang jurnalis.

Sosok Ferry Effendy ini menjadi bukti, kamera itu bisa lebih tajam dari peluru, dan gambar bisa menjaga sejarah dari lupa.

Editor: R Wahyudi