INDONESIAGLOBAL, JAKARTA – Kantor PWI Pusat, Jalan Kebon Sirih 34 Jakarta Pusat, Kamis siang 26 September 2024, dilakukan penggembokan dan aksi pendudukan, diduga kuat dilakukan belasan preman bayaran.
Hal ini diduga dipicu, akibat kekisruhan antar pengurus, pasca aksi pecat memecat.
Pengamatan IndonesiaGlobal, siang itu Hall Dewan Pers di lantai dasar sedang penuh sesak, dihadiri ratusan para peserta dan undangan.
Petang itu, SMSI (Serikat Media Siber Indonesia), tengah menggelar helat pelantikan pengurus periode 2024-2029 dan pengukuhan Forum Pemred Pusat.
Di lokasi, IndonesiaGlobal berhasil lolos menuju Lantai IV, dan menyaksikan penggembokan dengan Finger Print selama ini.

Sedangkan siang tadi, justeru Kantor PWI diduduki oleh para preman, yang diduga bayaran.
Sementara para wartawan anggota PWI yang hadir itu melihat suasana berbeda di Lantai IV Gedung PWI, penuh sesak oleh tampangan preman diduga dibayar, datang memenuhi lantai dan tangga naiknya.
Mereka ada yang bertanya. “Apa gerangan yang terjadi. Tidak biasanya seperti ini?”, celoteh mereka. Mendengar informasi ini, dengan sigap IndonesiaGlobal langsung memencet lift menuju lantai IV.
Terlihat ruang pengurus yang membujur luas itu tertutup rapat, dan di gerbang pintu itu diduduki para preman berkulit hitam. Ada yang berambut acak dan gondrong. Diduga mereka adalah preman bayaran diduga suruhan pengurus dipecat dalam kasus Cash Back di balik PWI Gate.
Tampak pintu kaca PWI ini selain terhalang dengan tubuh Bodyguard, juga terkunci sistem finger print. Ketika Pemred media ini mencoba masuk dalam ruang sekretariat itu, ternyata pintu kacanya tidak bisa terbuka langsung, seperti biasa lagi. Andai saja Anto, Staff Sekretariat PWI tidak membukanya dari dalam.

Siap memasuki gedung ini, menyaksikan sendiri pemandangan rada asing, dan terkesan sengaja dibuat seram, walapun kita sesungguhnya memasuki kantor sendiri.
Atal S. Depari mantan Ketua Umum PWI Pusat, juga mengaku dilarang masuk ke Kantor PWI Pusat—Gedung, di mana selama lima tahun dia pimpin. Kehadiran Atal, ke Gedung Dewan Pers dalam rangka kegiatan SMSI. Namun matanya menangkap ada suasana berbeda, tutur Atal kepada IndonesiaGlobal, disaksikan Ketum PWI Zulmansyah Sekedang.
“Saya hanya ingin melihat suasana kantor dan Sekretariat PWI, tapi dilarang masuk oleh Dadang Rahmat,” sebut Atal nada kecewa, seraya menahan emosi.
Menurut Atal, peristiwa seperti dramatis sekali, kala Dadang Rahmat menyatakan penutupan akses ini, atas perintah Sekretaris Jenderal PWI Pusat, Iqbal Irsad.
Kita tahu, Hendry Ch. Bangun, telah diberhentikan secara penuh dari keanggotaan PWI oleh Dewan Kehormatan PWI Pusat, akibat dugaan pelanggaran terhadap PD-PRT.
Kalangan dekat dengan PWI membisikkan, kamar di Kantor PWI Pusat, lebih sering diisi sanak keluarga bekas Ketum, dan bekas Sekjend, ketimbang pengrus lainnya. Mereka berleha-leha dan makan minum layaknya di rumah sendiri.












