HukumJendela AlaKriminalNanggroe Aceh

Sejak Januari 2023, Angka Kasus Pencabulan Anak Bawah Umur Di Asel Terus Meningkat

×

Sejak Januari 2023, Angka Kasus Pencabulan Anak Bawah Umur Di Asel Terus Meningkat

Sebarkan artikel ini
Istri Banting Tulang Jadi TKW, Suami Malah Rudapaksa Anak Tiri
Istri Banting Tulang Jadi TKW, Suami Malah Rudapaksa Anak Tiri. (Ilustrasi Google)

INDONESIAGLOBAL, ACEH SELATAN – Kasus pencabulan anak dibawah umur di Kabupaten Aceh Selatan, sejak Januari 2023 mengalami peningkatan.

Terhitung mencapai lima orang anak yang menjadi korban. Hal itu turut dibenarkan Kapolres Aceh Selatan AKBP Mughi Prasetyo Habrianto, melalui Kasat Reskrim AKP Fajriadi, ditemui IndonesiaGlobal, Kamis 30 Mei 2024.

ADVERTISEMENTS
BANNER

Kata dia, sebanyak sembilan kasus pelecehan seksual, terjadi di tahun ini.

“Lima di antaranya merupakan anak-anak bawah umur dan empat lainnya merupakan orang dewasa,” kata kasat.

LIHAT JUGA:   Dua Calon Wali Kota Langsa dan Elemen Masyarakat, Kolaborasi di Meja Kopi

Dia menjelaskan, ada beberapa hal menyebabkan indikasi ini terjadi, seperti kurangnya pengawasan dari orang tua, pengaruh gadget dan pergaulan bebas.

Menurut dia, selama ini kasus pencabulan anak di bawah umur itu terjadi, bukan tidak saling mengenal, melainkan mereka saling kenal.

“Hal itu merupakan suatu bukti, akibat pergaulan bebas,” kata kasat itu.

Nanti kita juga melakukan patroli terhadap remaja-remaja masih berkeliaran di atas jam telah ditetapkan. Ini, ujar dia, sebagai bentuk upaya kita mencegah agar tidak terjadinya peningkatan angka pelecehan seksual terhadap anak bawah umur untuk ke depannya.

Ketua Komisi II DPRK Aceh Selatan Zamzami, ST, MAP,
Ketua Komisi II DPRK Aceh Selatan Zamzami, ST, MAP, (Dok Pribadi)

Sementara itu, Kepala Badan Permberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan KB (BP3AKB), Shaumi Radli, menyebutkan pihaknya sudah melakukan sosialisasi pencegahan kasus pencabulan anak bawah umur.

Selain itu, kata dia, juga melakukan pendampingan saat hal itu terjadi.

Dia juga mengaku, selama ini tidak fokus dalam mensosialisasikan hal ini kepada masyarakat, mengingat tidak adanya anggaran dari pemerintah daerah, untuk mensuport kegiatan itu.

Kata dia, pihaknya sudah mengajukan anggaran tersebut, namun akibat keterbatasan dana, pemda tidak menanggapi hal itu.

Shaumi berharap, Pj Bupati Aceh Selatan agar segera melantik kepala Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD).

Harapannya, supaya bisa mensuport dana untuk kegiatan sosialisasi terkait perlindungan anak dan perempuan.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRK Aceh Selatan Zamzami, saat dihubungi melalui panggilan WhatsApp, meningkatnya kejadian pelecehan seksual terhadap anak bawah umur, kata dia disebabkan tidak terkendalinya penggunaan Hp Android serta situs-situs pornografi beredar luas dan terkendali di media-media sosial.

Selain itu, kurangnya pengawasan orang tua terhadap anak. Hal ini bisa juga disebabkan banyaknya orang tua tidak paham Informasi dan Teknologi (IT), biasa kita sebut gaptek. Kemudian, tidak jelasnya program dan rencana kerja Dinas DP3AKB Aceh Selatan.

Hal itu juga sangat disayangkan, dengan pernyataan dari Kepala DP3AKB. Kadis menyebutkan, jika dinas dipimpinnya itu kekurangan anggaran.

“Sehingga terbatasnya kegiatan yang akan mereka laksanakan.” Tentunya, kami dari pihak legislatif akan sangat mendukung setiap program yang diajukan oleh dinas-dinas, terlebih program itu demi kepentingan masa depan orang banyak.

Kata dia, Dinas DP3AKB ini seharusnya mempunyai inisiatif untuk melobi dana dari pemerintah pusat.

“Sebab, dinas ini bisa langsung melakukan jemput bola ke pemerintah pusat,” tutup Zamzami. (MAG)

Editor: RAH