Nanggroe Aceh

“Tega Nian Kau Rampok Aku Yang Cacat Netra Ini Ya?”

×

“Tega Nian Kau Rampok Aku Yang Cacat Netra Ini Ya?”

Sebarkan artikel ini

IG.NET, BANDA ACEH– Sahrial salah seorang penyandang disabilitas, ketika dirampok OTK Senin 20 Maret 2023 hanya bisa pasrah. Hatinya hanya mampu bergumam, “tega nian kau rampok Aku yang cacat netra ini ya?”

Siang itu, Sahrial ayah empat putra dan satu putri serta suami Nursian sedang apes. Dengan tongkat putih pemandu jalan, Sahrial sedang melintas jembatan hulu Sungai(Krueng) Daroy kawasan Keutapang, Aceh Besar. Langkahnya tiba-tiba dihentikan Orang Tak Dikenal (OTK) dengan penuh ramah tamah.

ADVERTISEMENTS
BANNER

“Bapak mau ke mana, apa butuh bantuan, tentu sangat Saya butuh”, ujar Sahrial spontan dengan hati berbunga-bunga.

Hatinya seketika berbisik, “alhamdulilah dalam suasana hari meugang ini ada yang menawarkan bantuan,” imbuhnya

Sahrial menuturkan kisahnya kepada Adnan NS ketika membesuk korban di rumahnya Rabu 22 Maret 2023 petang menjelang magrib. Adnan sengaja mendatangi kediamannya pada hari baik bulan baik seperti ini, setelah hubungan telepon selulernya tak aktif lagi sejak tiga hari lamanya.

Menurutnya, dalam dialog singkat itu, si OTK ini menanyakan bantuan modal nanti mau diapakan? “Bantuannya kelak jangan berikan kepada siapa-siapa ya, kecuali untuk keluarganya sendiri? Kalau begitu, “ayuuk sekarang bapak ikut ke rumah Saya”, ajaknya dalam dialek khas Aceh Besarnya.

LIHAT JUGA:   Harga Daging Lembu di Agara Jelang Idul Adha 

Dengan riangnya Sahrial, 60, putra asal Alue Pinang, Samadua, Aceh Selatan ini seperti terhipnotis, langsung saja menerima ajakan berboncengan di jok belakang sepeda motor jenis matic itu.

Berharap Untung, Buntung Didapati

Pada awal perjalanannya, Sahrial berkomunikasi secara intra personalnya. “Pucuk ditimpa ulang tiba”. Dalam suasana gerah menyambut meugang ada saja bantuan yang datang, bisik hatinya meyakinkan dirinya sendiri.

Tapi alur intuitifnya mulai terlintas lain saat menempuh pejalanan panjang dan berbelok-belok, dan berbatu serta kakinya beberapa kali menyapu rerumputan. Saat itu sanubarinya mulai berkecamuk. Ada apa gerangan yang bakal menimpanya?

Mulut ingin berteriak, tapi tidak kedengaran suara ayam, apalagi suara manusia di sekitar itu. Benar saja, setibanya di lokasi senyap kawasan Lamtemen Barat, Banda Aceh, tiba-tiba Dia turunkan. Badan dan tas jinjingnya gerayangi, telpon selular usang (HP tituet) di saku kanan celana panjangnya dirampas paksa.

Dia ditinggalkan begitu saja dan hand phone dibawa larinya. Mantan Ketua Pertuni Banda Aceh ini menjadi bingung dan berjalan balik ke arah belakang. Di tengah perjalanan mencari jalan besar, Dia ditegur seorang owner Doorsemeer dan ditanyakan dari mana dan hendak ke mana?

LIHAT JUGA:   Pj Bupati Ajay Terima Zakat Perusahaan BAS Cabang Calang

Kebetulan orang itu mengenalnya dan mengantarkannya kembali ke rumahnya di belakang pasar Ketapang Dua itu, usai menceritakan musibah yang baru dialaminya itu. Harapannya ingin mencari secuil daging meugang pupus seketika.

Peristiwa ini pertama sekali dialaminya sejak Sahril menetap di Banda Aceh 1982 silam. Selama Dia termasuk orang yang paling getol menasehati teman senasib, namun kali ini justeru menimpanya.

Keesokan harinya berbekal telpon selular second hand yang dibeli putranya, Dia mencoba menghubungi nomor handai toilan yang dihafalnya, tapi kebanyakan nomor yang dituju tidak ada yang mengangkat nomor barunya, O81269448938 itu. Maklum, suasana megang orang takut juga mengangkatnya, sebut Sahrial terharu dikunjungi menjelang magrib itu.

Nomor ini pernah berdering berkali-kali pada layar handphone android milik Adnan. Ketika itu di PWI Aceh sedang berlangsung acara meugang bersama. Saat ditelpon kembali telponnya jalurnya sedang sibuk dan selanjutnya hubungan terputus beberapa kali.

Sementara nomor yang dilarikan OTK itu sudah tak bisa dihubungi lagi sejak peristiwa menimpanya. Curiga tentang kemungkinan ada hal yang tidak lazim, Adnan langsung bertandang ke rumahnya di pojokan Dusun Korpri Desa Garot, Darul Imarah arah ke Pasar Lambheue.

 

Editor: RM Adens