Nanggroe Aceh

18 Tahun Tsunami Aceh, Hidup Terus Bergulir

×

18 Tahun Tsunami Aceh, Hidup Terus Bergulir

Sebarkan artikel ini

IG.NET, BANDA ACEH – Malam ini, pada 18 tahun silam kami masyarakat Aceh kembali berdoa dan melaksanakan dzikir bersama di seluruh tempat dari surau ke surau dan mesjid ke mesjid, khususnya bagi daerah terdampak tsunami.

Kegiatan itu menyiratkan kisah sedih penuh kenangan akan orang-orang tersayang, kembali terlintas dalam ingatan.

ADVERTISEMENTS
BANNER

Konflik berkepanjangan yang selama itu menghantui dan melukai banyak korban, seolah terkalahkan oleh teguran Tuhan.

Hari itu, desau tiupan angin begitu lirih, seakan ingin menyampaikan sesuatu yang amat hening bahkan begitu tenang pada setiap insan. Banyak yang terbuai dalam akhir pekan, menurut mereka sangat menyenangkan.

Sebagian orang ada menghabiskan waktu libur dengan berbagai kegiatan. Seperti olahraga, melakukan hobi, bermain di pantai bahkan sebagian dari mereka masih ada terlelap di peraduan.

Menyaksikan kemolekan wajah asri Banda Aceh di tengah konflik peperangan seraya berharap, kapan semua ini akan usai.

Dalam hati bertanya, akankah Aceh ku terletak di wilayah ujung Barat Indonesia dengan dengan khazanah religi akan merasakan udara ketenanga,n seperti apa dirasakan saudara-saudaraku di provinsi lainnya?

Saya pun hanya berharap, sembari melihat beberapa kesibukan pagi ini oleh masyarakat diiringi riuh renyah canda tawa dari bocah bocah sangat menikmati akhir pekan itu.

Namun, seketika musibah datang tanpa salam sapa, bahkan tanpa dugaan. Tiba tiba meluluh lantakkan kota ku. Gempa maha dahsyat terjadi pada Minggu pukul 07.59 WIB pagi.

Dengan kekuatan 9,3 SR Magnitudo, gempa itu menghancurkan bangunan di atas Serambi Mekkah ku. Air lautpun naik ke permukaan dengan tinggi sekira 30 hingga 50 meter.

Seketika saudara-saudaraku, masyarakat serta warga kampung ku turut berhamburan, mereka lari ketakutan penuh kecemasan. Entah apa ada dalam benak mereka saat itu? Apakah kiamat datang? Atau ini perang sesungguhnya?

LIHAT JUGA:   Satreskrim Polres Langsa Tangkap Pelaku Pencurian

Mereka pun hanya memilih dan berusaha menyelamatkan diri saat diluluhlantakkan oleh kekuatan gempa dan dilanjutkan dengan terjangan hebat gelombang tsunami naik ke daratan.

Sehingga, untuk menentang ketinggian air laut begitu dahsyat pun mereka tak mampu. Kota ku hancur, musnah dan berantakan hanyut bersama gagahnya gelombang tsunami tahun 2004 silam.

Harta, tahta bahkan pangkat sekalipun tidak terhiraukan pada saat itu. Ingin berteriak dan menangis histeris pada saat itu, namun untuk apa dan kepada siapa?

Yang ada hanyalah sisa puing serta ratusan jiwa dari onggokan mayat saudara-saudaraku sudah tidak bernyawa terbawa gelombang hebat tsunami maha dahsyat tersebut.

Demi memohon pertolongan dari Tuhan. Sayup sayup terdengar lantunan suara Adzan dari mulut ke mulut agar musibah ini dapat dihentikan dengan dan atas Kuasa NYA. Perlahan lahan, gelombang hebat tsunami mulai surut meski belum begitu cepat.

Ku lihat seorang perempuan paruh baya, terlihat kaku membisu menyaksikan peristiwa itu. Perlahan, ia pun mulai bisa berkomunikasi meskipun terbata-bata di depan orang banyak.

Di antara kesedihan itu, dia menyelipkan sisa kekuatan dengan airmata. Dia berkata, aku harus bisa menemukan mayat dari anak anakku.

Seakan tak ingin merepotkan orang-orang di sekitarnya, wanita itupun berjalan tertatih tatih dari tempat perlindungannya di halaman teras bangunan megah kokoh menjadi saksi bisu hebatnya terjangan tsunami melanda Aceh.  Antaranya, bangunan Mesjid Raya Baiturrahman terletak di pusat kota Banda Aceh.

Wanita paruh baya itupun terus melanjutkan langkahnya. Bahkan perempuan hebat itu masih sanggup untuk mengulurkan tangan kepada mereka masih duduk tersungkur dengan kebisuan sambil berfikir, apa yang telah terjadi pada negeriku?

Dengan lantang ia menjawab, sekarang bukan saatnya untuk melawan takdir Tuhan. Beragam pertanyaan pun akan sia-sia, sebab sebagian dari kita telah tiada, katanya.

Saat ini yang dapat dilakukan adalah upaya untuk menemukan mayat dari anak anak kita, orang tua kita bahkan saudara saudara kita dari onggokan sisa lumpur dan reruntuhan puing-puing berserakan serta terus melanjutkan perjalanan panjang ini.

LIHAT JUGA:   Semua Pihak Harus Kerjasama Berantas Judi Online di Aceh

Tak akan adalagi peperangan. Hidup harus terus berjalan, melanjutkan cita-cita dengan sejuta kenangan, doa dan airmata. Mereka para syuhada, akan selalu menjadi bagian dari kisah dan kenangan hingga akhir masa dengan Al-Fatihah.

Setelah terjadi tsunami, banyak yang menyimpulkan semua orang Aceh mengalami stres permanen, sehingga hebohlah seluruh dunia.

Sejumlah psikologi bermunculan, bala bantuan dunia berdatangan untuk mengobati kondisi mental masyarakat di Aceh serta membangun kembali negeri ini.

Indonesia pada saat itu dinyatakan sebagai kawasan bencana tsunami terparah. Puncak gempa Aceh seolah membangunkan masyarakat dari mimpi buruk. Mimpi terus berkepanjangan dikarenakan konflik perang.

Demi mengenang kejadian itu, puncak peringatan bencana tsunami Aceh selalu diperingati setiap tanggal 26 Desember di tiap Tahunnya.

Refleksi dari musibah ini dimana seluruh kegiatan dihentikan pada hari terjadinya musibah tersebut. Yang ada hanyalah Doa dan Dzikir bersama mengenang bencana mengguratkan kisah pilu.

Meski suasana duka selalu menyelimuti peringatan bencana tsunami, namun tak perlu lagi meratapi apa telah terjadi pada 18 tahun silam.

Musibah tsunami telah terjadi, itu adalah bentuk dari kasih sayang Allah kepada seluruh masyarakat Aceh. Bagaimana tidak? Berkat tsunami jua, konflik berkepanjangan terjadi di Aceh berhenti, dan terwujudlah proses damai telah dirasakan hingga kekinian.

Ke depan, masyarakat Aceh akan terus merajut asa, menggapai cita-cita sebelumnya sempat tertunda. Kini wajah Aceh ku tengah bangkit.

Bangkit dari kisah pilu masa silam, bangkit dalam pembangunan segala bidang sarana pun prasarana, serta bangkit untuk selalu menjalin tali persaudaraan dengan kasih sayang.

 

Penulis : Cut Silvia